Nyawa BPJAMSOSTEK, Ketepatan Pengelolaan Dan Pemanfaatan Iuran


Posted : 14-01-2021 17:15:55


Nyawa BPJAMSOSTEK, Ketepatan Pengelolaan Dan Pemanfaatan Iuran 

Menko PMK Muhadjir Effendy.(foto,ist)


Penulis : Budi Seno P Santo


SuaraKarya.id - JAKARTA: Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan atau BPJAMSOSTEK bertugas memberikan pelayanan pendaftaran kepesertaan dan mengumpulkan iuran dari peserta dan pemberi kerja. BPJAMSOSTEK juga mengelola dana jaminan sosial, untuk kepentingan peserta, membayarkan manfaat dan/atau membiayai pelayanan.

"Pengelolaan dan pemanfaatan iuran BPJAMSOSTEK dari tenaga kerja, agar dapat dioptimalkan tepat sasaran, serta seefisien mungkin," tutur Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy, dalam sambutannya saat meresmikan Gedung Plaza BPJAMSOSTEK, di Jakarta, Jumat (8/1/2021).


Seperti diketahui, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 24/2011, BP Jamsostek menyelenggarakan program jaminan sosial meliputi jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun, serta jaminan kematian.


“Itulah nyawa dari BPJS Ketenagakerjaan. Kalau kita salah mengelola iuran yang ada apalagi disertai kurang bertanggung jawab, maka akan sangat membahayakan struktur angkatan kerja Indonesia terutama dalam aspek keterjaminan mereka,” ungkap Menko PMK.


Kendati demikian, dia menilai langkah dan kinerja BPJAMSOSTEK saat ini sudah berada di jalur yang benar. Hanya, sekali lagi dia menekankan, agar BPJAMSOSTEK terus menjaga amanat dan kepercayaan dari para peserta, yang merupakan angkatan kerja serta penentu dari pertumbuhan ekonomi nasional.


“Saya yakin kalau kita melaksanakan amanat sungguh-sungguh insya Allah pahalanya akan sangat besar. Sebaliknya, kalau kita mengkhianati amanat itu, dosanya pasti tidak akan pernah diampuni oleh Tuhan,” tutur Menko PMK Muhadjir Effendy.


Dia menekankan, itu merupakan amanat besar. Dana yang terhimpun melalui BPJAMSOSTEK adalah uang hasil kerja keras para pekerja, yang setiap hari harus berkeringat demi mengumpulkan rupiah demi rupiah. Bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk bangsa Indonesia.


“Karena itu, ini adalah amanat, harus ditangani dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab,” tutur Menko PMK.


Di sisi lain, dia menilai kondisi angkatan kerja Indonesia kini belum terlalu baik. Dari total 136 juta angkatan kerja, 7 juta di antaranya tergolong pengangguran. Bahkan ironisnya, selama pandemi Covid-19 jumlah pengangguran terus meningkat hingga ditaksir mencapai 13 juta jiwa.


Padahal, tiap tahun angkatan kerja baru, mulai tamatan SD hingga perguruan tinggi berjumlah 2,9 juta. Artinya, terdapat tantangan besar untuk dapat menyiapkan calon angkatan kerja baru yang memiliki kemampuan dan kompetensi sesuai kebutuhan lapangan kerja.***